Rabu, 30 Januari 2013

MIKA

Mika. Eh di sini bukan ngebahas Mika Tambayong loh ya. Di sini gue mau ngebahas Mika the movie, sebenarnya gue udah lama mau bahas ni film, cuma nda sempat terus-_-
Film ini diadaptasi dari novel based on true story 'Waktu Aku Sama Mika' yang ditulis oleh Indi yang menderita penyakit skoliosis. Film yang diperankan oleh Vino G. Bastian sebagai Mika dan Velove Vexia sebagai Indi ini sungguh menarik. Awal mula film ini dibuka dengan pertemuan Mika dan Indi di pinggiran danau yang menurut gue cara mereka ketemu asik dan keren banget. Mika mengaku bahwa ia adalah ODHA namun Indi tidak terkejut dan sama sekali tidak berpikir untuk menjauhi dan menyudahi perkenalan mereka. Oya disini diceritakan kalau Mika itu orang berumur 20 tahunan sedangkan Indi baru masuk SMA, perbedaan umur yang cukup jauh bukan? Screen berikutnya Mika yang sudah mengetahui bahwa Indi masuk ke salah satu SMA di Jakarta mengirimkan novel Peterpan untuk dibaca saat jam olahraga (Mika tahu bahwa Indi yang Skolioser pasti tidak mengikuti olahraga). Ternyata, didalam novel tersebut terdapat tantangan dari Mika sebuah petunjuk yang saling berkaitan. Indi menyanggupi tantangan tersebut. Ternyata oh ternyata ujung dari tantangan itu adalah sebuah tempat kumpulnya si Mika, tempat ini berada di belakang sekolah. Kenapa bisa begini? Rupanya Mika itu merupakan alumni SMA tempat si indi bersekolah. Jadilah mereka bersenda gurau di sana. Lanjutannya Mika mengajak Indi untuk pulang sekolah bersamanya yang pada akhirnya hal ini akan menjadi rutinitas. Sepanjang perjalanan pulang mereka melakukan hal-hal yang menurutku sungguh keren dilakukan seorang cowok dan momen yang so sweet untuk dirasakan seorang cewek. Seperti mereka bersenda gurau sepanjang perjalanan, dan Mika selalu melakukan hal konyol dan penuh kejutan untuk menghibur si Indi. Mika pun terlihat sering memberi barang kepada si Indi dengan cara yang yang cukup konyol. Dan disinilah puncaknya, Mika menembak Indi disebuah cafe, Mika ragu Indi mau menerimanya untuk menjadi kekasihnya, namun Indi berkata lain dari yang ditakutkan Mika. Indi menerima Mika dengan mantap tanpa memperdulikan status Mika yang ODHA. Lalu berlanjutlah dengan cerita-cerita yang indah hari-hari Indi bersama Mika.
Ada hal yang cukup lucu menurutku, saat screen mereka gagal berciuman. Hahaha Indi yang sewot bingung kenapa hal itu terjadi, rupanya gusi Mika berdarah dan Mika takut HIV/AIDSnya menular ke Indi. Indi lalu ngotot membawa Mika ke dokter gigi hanya untuk mengobati gusinya yang luka hanya untuk dapat berciuman dengan Mika. Ya namun tetap saja hal itu tak dapat tercapai karena dokter ybs tidak mau mengobati ODHA. Miris. ODHA dijauhi, dikucilkan seperti itu. Dokter seharusnya tau cara penanganan yang tepat, namun hal itu tidak dilakukan oleh si dokter.
Hari terus berlalu, penyakit Mika bertambah parah. Koreng mulai muncul, batuknya semakin parah dan wajahnya semakin pucat. Hal-hal rutin yang dilakukan bersama Indi mulai berkurang dijalani bersama. Hal yang cukup miris terjadi lagi. Saat Indi menggelar acara sweet seventeennya Mika datang dengan batuk yang parah, saat disitulah teman-teman Indi mengetahui bahwa Indi pacaran dengan penderita AIDS teman-teman Indi memilih untuk pulang dan meninggalkan Indi berdua dengan Mika di acaranya.
Konflik makin memuncak saat orang tua Indi mengetahui anaknya berpacaran dengan penderita HIV/AIDS dan penyakit Mika semakin parah lalu memutuskan untuk tidak bisa melalui hari terus bersama. Indi yang sedih lalu memutuskan untuk menjalani harinya seorang diri dan tegar dengan ucapan-ucapan semangat yang pernah dikatakan Mika.
Di sinilah penyelesaiaannya. Mika meminta Indi menemuinya di rumah, Indi lalu berbaring di samping tubuh Mika yang sudah tidak berdaya, tangan mereka berpegangan. Lalu Mika mengatakan Tuhan telah memberikan kita sesuatu yang sangat berharga. Imajinasi. Lalu dimulailah imajinasi mereka berdua yang bersenda gurau di sebuah padang rumput, hanya mereka berdua tanpa orang lain di sana, mereka bahagia. Tidak lama sesudah itu Indi tersadar dari imajinasi mereka, dan menyadari bahwa Mika telah pergi untuk selama-lamanya. Momen ini sungguh menyedihkan. Tidak akan ada lagi pelindung Indi yang rapuh, tidak ada lagi Mika yang konyol.
Beberapa tahun kemudian Indi masuk ke sebuah universitas dengan mental yang cukup baik. Tidak ada lagi Indi yang  pemalu, penakut maupun minder. Ia menyadari bahwa yang telah mati dapat membuat yang lainnya hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar